Label

Selasa, 18 Maret 2014

Belajar Motret #2


Belajar Motret #1

Rabiatul 1
Rabiatul 2
Rabiatul 3

Rabiatul 4

Rabiatul 5

Rabiatul 6

Rabiatul 7

Rabiatul 8

Rabiatul 8

Rabiatul 9

Rabiatul 10

Rabiatul 11

Rabiatul 12

18-03-2014

Astagafirullah.... sepertinya selama ini niatku sudah bengkok... Aku harus menyibukkan diriku dengan kebaikan agar tak ada lagi waktu-waktu yang akan saya sesali di kemudian hari.. SEMANGAT

Senin, 17 Maret 2014

G penting

Pernah suatu ketika profesi mengobati menjadi hal yang dilakukan orang dengan suka rela dan keiklasan, dengan niat ingin membantu sesama. Kemudian niat baik itu diapresiasi oleh orang lain hingga pada akhirnya di nilai tinggi, dihargai tinggi.  Kemudian penghargaan yang tinggi itu mereka wujudkan dengan membayar mahal.
Setelah di bayar mahal, kini orang berbondong-bondong memasuki profesi itu, entah apa niatnya kita tak akan pernah tau. mengeluarkan banyak uang untuk menjadi seseorang dengan profesi tersebut. Betapa luar biasa seseorang yang mengeluarkan uang banyak dan berkorban banyak hal hanya untuk menolong orang lain, mudah-mudahan itu niatnya. Semoga bukan karena mereka merasa ada jaminan bahwa setelah mereka berhasil meraih profesi tersebut, uang dan pengorbanan itu akan kembali dengan jumlah yang jauh lebih banyak... Ada banyak hal yang tidak saya mengerti di dunia ini. Ada banyak hal yang begitu aneh yang tidak masuk dalam logikaku tapi terjadi.. Banyak hal yang diluar kendaliku.. :'(

Kamis, 06 Maret 2014

TULUS

Boleh kutuliskan lagi cerita tentangmu? Jangan marah, kali ini bukan kekuranganmu. Tapi sejujurnya tak pernah tentang kekuranganmu. Kamu menganggapnya kekurangan yang justru di mataku itu adalah kelebihan.

Ah iya, satu hal yang selalu ingin kusampaikan tapi tak pernah kau tanyakan. Aku ingin memberitahumu alasanku menyukaimu. Bukan untuk menggombal, hanya saja sesak rasanya bahwa tak seorangpun yang tau alasan itu. Setidaknya orang harus tau betapa istimewa kau melalui kacamataku.

Aku tak tau, kesan yang kurasakan terhadapmu apakah itu adalah karakter aslimu atau hanya reputasi yang coba kau bangun untuk membuat orang-orang disekitarmu terkesan. Intinya aku menyukai kesederhanaanmu. Bagaimana hal-hal kecil tentangku bisa membuatmu bahagia. Dan aku lebih heran, kenapa hal-hal kecil tentangmu juga membuatku bahagia. Aku senang waktu kamu mengatakan "kenapa saya senang mendengar kamu sering di pondokan dek" dan juga ketika kamu mengatakan bahwa kamu manja pada mamamu. Sesuatu yang semestinya terdengar kekanak-kanakan tapi kenapa justru terdengar sangat dewasa dan romantis di pikiranku. :) Ahhh.. atau barangkali aku yang telah mendekati tingkat ketidakwarasan.. hahaha... Aku harap kamu juga cukup Gila untuk tetap mencintai orang yang setengah gila sepertiku.

Aku bertanya-tanya dalam hatiku kapan kamu akan sempat membaca tulisan ini. Sepertinya rasa sukamu yang sederhana bisa menyukaiku tanpa banyak tau tentangku. Tidak seperti seseorang, kau sepertinya tidak terlalu peduli untuk tau semua hal tentangku. :) Seharusnya kukutuk diriku yang bodoh menuliskan hal-hal tidak penting ini, yang kamu saja tak tau kapan tiba-tiba nyasar membacanya. Barangkali kamu memang orang cuek, atau orang yang kurang peduli. Tapi anehnya, ku yakini dalam hati sesuatu yang lain, Aku anggap ketidakpedulianmu itu adalah bentuk ketulusan. Bahwa kau menyukaiku tanpa perlu banyak tau segala hal tentangku. Atau barangkali kau sepertiku diam-diam mengamati profilmu dan tidak meninggalkan jejak apa-apa. Hanya sekedar ingin memastikan bahwa kau baik-baik saja. Tak ada orang lain yang membuatmu sakit hati dan sebagainya.

Sampai saat ini aku merasa bahwa akulah yang pertama kali mengajarkanmu mengetik ":)"

_ANNE_

Kamis, 27 Februari 2014

Kamu apa yang kamu tulis

       Satu hal yang tidak enak dari menulis adalah orang akan menghubung-hubungkanmu dengan tulisan yang kau buat, nggak perduli tulisan itu fiksi sekalipun. Pembaca mulai menebak-nebak kisahmu. Menghubung-hubungkan antara cerita yang kau buat dengan dirimu. Menganggap apapun yang kau tulis merupakan kenyataan yang kamu alami. Kita tidak bisa menghindari seseorang menilai kita baik atau buruk hanya karena tulisan kita isinya tentang bersyukur atau justru mengeluh.
      Hal itu tentu bisa jadi beban pikiran bagi seorang penulis, tidak terkecuali bagi saya yang hobi menulis tapi belum bisa disebut penulis. Dulu,, dulu sekali, aku mulai senang menulis karena bagi saya menulis menjadi semacam pelarian menuangkan segala keluh kesah. Kertas seperti teman yang polos yang sangat sabar menampung semuah keluhan, penyesalan, bahkan cerita-cerita tidak pentingku. Kertas yang tidak bertulang dan syukurnya juga tidak punya lidah yang bertulang bisa sangat merahasiakan apapun yang kamu ceritakan padanya. Dan kemudian media itu berpindah pada Blog. Dalam hal tertentu kertas memang takkan terganti karena kamu bisa meyimpannya sangat rahasia sehingga tak ada yang mengetahuinya. Tapi blog jauh lebih praktis, tidak akan hilang sepanjang kamu masih ingat email dan paswordmu.
      Dan karena kepraktisannya itu, akupun mulai teralih. Mulai menuliskan hal-hal yang saya ingat pada Blog, tentu saja bukan seluruhnya, aku menyaringnya bahkan memanipulasinya agar hanya aku yang tau seperti apa persisnya yang kurasakan. Awalnya, Ah tidak, sampai sekarang menulis di Blog sangat menyenangkan. Memiliki kesempatan berbagi cerita pada orang lain mempunyai kenikmatan tersendiri. Terlebih lagi, ketakutan bahwa tulisan itu menjadi masalah sangat sedikit karena kebanyakan pembacanya adalah orang yang tidak kita kenal.

      Tapi kembali lagi ke masalah orang lain menilai kita dari tulisan kita. Kemarin aku sempatkan membaca ulang semua postinganku di blog. Banyak hal menarik, banyak kisah yang hampir ku lupa. Aku baru mengingatnya ketika membaca kembali blogku. Tapi jika ku baca blogku sendiri dan mengasumsikan bahwa aku adalah orang lain, maka aku akan menyimpulkan kalau orang yang menulis blog ini adalah seorang yang suka mengeluh, galau, penakut tapi juga keras kepala dan tidak pengertian. Hampir semua isi blog ini sebelumnya tentang keluhan atau pengalaman yang tidak menyenangkan. Tapi insyaallah aku mengenal diriku, lebih baik dari orang lain mengenalku. Awalnya aku takut orang akan menilaiku tidak baik dari tulisanku, tapi kemudia aku berpikir ahhh tidak usah pusing. Aku berusaha membangun karakter yang baik, nggak peduli reputasiku atau anggapan orang lain terhadapku seperti apa. Tuhan tau apa yang saya kerjakan dan pikirkan. Aku akan tetap menulis apa yang menurutku harus kutuliskan. Tetap tidak akan banyak kisah indah, karena aku punya banyak teman untuk berbagi cerita bahagia. Mungkin blog ini kedepannya masih akan ada keluhan, bukan karena tak ada temanku yang bisa kutempati berbagi keluh kesah, melainkan aku ingin menyimpan dengan baik segala jenis perasaan bahkan keluh kesah sekalipun mungkin bukan di memori otakku tapi lewat tulisan-tulisanku.

_DM_

Minggu, 23 Februari 2014

SEMANGAT

Jangan sedih,,, ini pilihanmu cantik.Nikmati saja agar kamu tidak menyesal. Intinya lakukan yang terbaik, jangan sesali apa yang telah kamu lewatkan demi memperjuangkan cita-citamu. suatu hari kamu akan mendapatkan apa yang orang lain tidak dapatkan..insyaallah.. SEMANGAT